Balas Dendam Itu Manis

15 Mei

Apakah kamu pernah disakiti sedemikian rupa sampai – sampai sulit sekali rasanya untuk melepaskan atau memaafkan? Apakah balas dendam bisa membuat kamu merasa jauh lebih baik? Apakah kamu adalah orang yang memiliki pola pikir “Dont get mad, get even!” ? Di tengah suasana bangsa yang sedang agak sensitif belakangan ini, saya ingin mengajak Anda untuk mengungkap berbagai Kenikmatan & Ketidak’nikmatan dalam hal BALAS DENDAM.

Dalam bahasa Jerman ada sebuah kosakata menarik yaitu, ‘schadenfreude‘, yang berarti; rasa puas yang kita rasakan ketika orang lain menerima kemalangan. Secara logika, hal ini memang terasa sangat aneh sekali jika kita manusia sebagai makhluk intelektual yang memiliki norma dan agama bisa mendapatkan kenikmatan pada keadaan seperti itu.

Manusia seharusnya tidak sejahat, serendah dan sekejam itu, ‘kan??

Menurut teknologi pemindai PET scan menyatakan sebaliknya. Reaksi emosional schadenfreude itu dapat terdeteksi muncul pada area otak kita yang bernama dorsal striatum, yaitu bagian yang bertanggungjawab untuk perasaan (nikmat/puas). Bagian itu teraktivasi (yang berarti konsumsi aliran darah meningkat di sana) salah satunya ketika kita merencanakan sesuatu untuk membalas dendam kepada orang lain.

Hal tersebut ditemukan oleh Ernst Fehr adalah seorang peneliti dari University of Zurich yang telah melakukan penelitian tentang balas dendam selama bertahun-tahun. Ia menyatakan demikian: “A person who has been cheated is left in a bad situation—with bad feelings. The person would feel even worse if the cheater does not get her or his just punishment.

Nah …itu sebabnya kita merasa butuh untuk membalas, yaitu supaya mengalihkan bad feelings itu kepada orang lain. Semakin detail plot pembalasan yang kamu buat, maka semakin banyak pula aliran darah yang mengalir ke dorsal striatum, dan berakibat semakin besar antisipasi kenikmatan yang kamu rasakan.

Sampai di sini, peribahasa rasanya benar: revenge is sweet.

Namun ternyata penelitian Ernst tidak berhenti sampai di situ saja. Ditemukan bahwa aliran darah pada bagian otak itu bisa berkurang ketika kita diingatkan pada konsekuensi, biaya atau resiko yang terjadi bila rencana balas dendam benar-benar dilaksanakan. Dalam bahasa sehari-hari, kenikmatan balas dendam hanya ada pada tahap perencanaan dan antisipasi.

Jika kemudian benar-benar dilakukan, rasa nikmat itu segera tergantikan dengan banyak sekali perasaan-perasaan negatif. Daniel Gilbert dari Harvard University menegaskan hal tersebut, “actually inflicting revenge on someone who has wronged us leaves us feeling anything but pleasure.

Bahkan sebuah penelitian lainnya yang berjudul The Paradoxical Consequences of Revenge menyatakan bahwa orang yang berharap bisa puas karena balas dendam justru mendapat ketidakpuasan yang berkepanjangan. Anda tahu apa alasannya??

Karena orang yang sudah membalas dendam cenderung akan terus memikirkan, merenungkan, dan mengenang orang yang menyakitinya; sementara orang yang tidak membalas dendam cenderung melanjutkan hidupnya dan tidak memusingkan orang yang menyakitinya. Berikut adalah kutipan langsung dari isi hasil penelitian tersebut:

People underestimate the extent to which punishment will make them ruminate about the transgressor, and they fail to realize that this is especially true if they instigate the punishment. The reason for this paradoxical finding is that rumination prolongs the negative emotions that punishers are trying to escape in the first place—the act of having punished someone keeps us thinking about them.

Menurut seorang psikolog sosial, Kevin Carlsmith dari Colgate University, tujuan balas dendam adalah demi menyeimbangkan keadaan dan merasakan kepuasan, namun anehnya jika dilakukan malah menciptakan efek berkebalikan. “Rather than providing closure, revenge does the opposite: it keeps the wound open and fresh. So it’s easier to move on. Say no to revenge. It only hurts yourself,” ucap Kevin sebagaimana dikutip oleh Psychology Today.

Sekali lagi, kenikmatan balas dendam tidak pernah bertahan lama dan hanya ada di tahap awal sebelum balas dendam dilakukan. Jika sudah sampai sini, peribahasa revenge is sweet itu kurang tepat; yang lebih tepat dan saintifik adalah planning a revenge is sweet.

Begitu rencana itu menjadi realita, orang yang dibalas akan terpikir untuk kembali membalas. Dengan kata lain, tidak akan pernah tercipta kondisi seimbang 1-1 (win-win solution) seperti yang kamu pikirkan, boro-boro manis dan nikmat karena kamu dan musuh-mu terjebak dalam parodi balas-membalas.(hummpff gak bakal abies nie)

Awalnya mungkin benar dialah yang menyakiti kamu. Tapi karena kamu sakit hati dan membalas dengan schadenfreude, dia juga jadi terpancing ingin membalas schadenfreude. Tidak terima dengan hal itu, kamu melancarkan schadenfreude lagi, yang tentu akan diresponi dengan schadenfreude dia, dan demikian seterusnya. Sebuah siklus hitam yang mengerikan.

Ketidakmanisan lainnya dari aksi balas dendam dijelaskan secara gamblang dalam buku berjudul None Of These Diseases, khususnya bab The High Cost of Getting Even. Dr. S.I. McMillan menuliskan bahwa jiwa pendendam membuat tubuh kita rentan terhadap serangan penyakit:

When we cannot resist the temptation to get even, we pay the high price of a pound of our own flesh. Toxic goiter, strokes of apoplexy, heart attacks, high blood pressure, ulcers and many other serious ailments afflict millions of people, and often it’s a direct result of the inability to forgive.

Sobat, kita memang tidak selalu bisa menghindari konflik, kejadian yang menyakiti, ataupun orang yang ingin mengambil keuntungan dari kita. Namun kita BISA menghindari aksi balas dendam agar tidak perlu menenteng siklus yang mengerikan ataupun penyakit di sepanjang hidup kita.

Apalagi aksi balas dendam membuat Kamu jadi terlihat sama dengannya. Kamu jadi sama bersalah dan kekanak-kanakannya dengan orang yang menyakiti kamu. Karena ketika orang lain menyakiti Kamu, dia menang; dan ketika Kamu balas dendam, dia menang untuk kedua kalinya.

Kalau saya jadi kamu, saya lebih suka menunjukkan bahwa saya lebih superior daripadanya dengan cara tidak menunjukkan terpengaruh, tidak sakit hati, ataupun tidak ingin membalas dendam. Karena menurut saya itu adalah ‘cara balas dendam’ yang paling manis.

Anda punya ide dan pengalaman lainnya???

Source: Lex dePraxis

Tag:, , , , , , , , , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.